Kecanggihan teknologi dewasa ini secara nyata telah membuat banyak perubahan sosial terjadi pada masyarakat. Hampir seluruh lapisan masyarakat yang sudah terpapar modernisasi akan terbawa arus sehingga mau tidak mau harus guyub dan masuk dalam dunia yang tidak karuan itu.

Fenomena yang akan diketengahkan dalam pokok persoalan ini adalah hal ihwal penggunaan Tik-Tok yang kini menjamur, menggurita, dan merebak di seantero dunia. Tak tanggung-tanggung, jumlah pengunduh dari aplikasi ini sudah mencapai angka 500 juta. Maka tak heran dengan jumlah pengunduh yang luar biasa banyak ini sedikitnya ikut berperan dalam perubahan serta transformasi sosial masyarakat.

Dalam menyikapi sebuah fenomena seperti kejayaan Tik-Tok kita perlu meninjaunya secara komprehensif dan mendetail. Ini menjadi penting sebagai sikap skeptis terhadap Tik-Tok yang notabene bukan merupakan budaya asli bangsa.

Oleh karenanya diperlukan penyikapan yang bijak agar ke depannya viralnya Tik-Tok ini tidak menimbulkan dampak destruktif. Sedikitnya kita perlu melihat beberapa penelitian mutakhir terkait pengaruh sosial media, khususnya terhadap moral dan karakter anak.

 

Resiko Dampak Buruk

Hal yang seperti dikemukakan Cahyono (2017) bahwa terdapat dampak negatif yang secara nyata dihasilkan oleh sosial media, termasuk Tik-Tok antara lain adalah, memicu kejahatan, cyber bullying, pornografi, perkembangan fisik dan emosi, serta komunikasi buruk.

Akibat-akibat yang disebutkan diatas percaya atau tidak memang terjadi pada dunia sekarang kita, terutama terhadap anak-anak. Neil Postman (2011) bahkan telah sejak lama mewanti-wanti terhadap kelestarian dunia anak-anak bisa tetap terjaga.

Postman bukan berlebihan mengungkapkan gagasannya, karena melihat berbagai kasus yang terjadi di masyarakat membuat ia dengan terpaksa kemudian mengeluarkan buku fenomenalnya yang berjudul "Selamatkan anak-anak".

Keresahan dari Postman terutama didukung oleh data bahwa rata-rata anak mengalami pendewasaan dini dengan menurunnya usia puber mereka.

 

Alasan

Penelitian dari Arofi & Hasfi (2019) ini diharapkan bisa sedikit memberi pemahaman tentang konten negatif yang terdapat dalam aplikasi Tik-Tok dan berbahaya khususnya bagi anak, diantaranya konten vulgar, erotis, dan lypsinc lagu dewasa. Ironinya ketiga konten itulah yang hari ini justru digemari banyak orang, termasuk oleh anak-anak.

Jika kita kembali pada teori perkembangan moral Kohlberrg anak-anak khususnya usia sekolah dasar 5-12 tahun masih berada tahapan pramoralitas.

Artinya mereka masih sukar membedakan mana baik dan buruk, atas dasar ini jugalah mereka masih menjadikan orang tua, guru, masyarakat atau orang yang lebih tua darinya sebagai contoh untuk diteladani.

Apa yang bisa kita kaitkan dari teori perkembangan anak ini terhadap fenomena Tik-Tok di masyarakat? Hal ini menjadi penting manakala kita sebagai orang tua agar bisa memposisikan diri ketika hendak menggunakan Tik-Tok di hadapan anak. Dalam kajian psikologi di atas semestinya orang tua perlu berhati-hati dalam mendekatkan Tik-Tok kepada anak.

Orang tua bukan berarti melarang Tik-Tok secara fatalis bagi anak, tetapi membatasi serta membimbing mereka dalam penggunaannya, bukan dengan mudah dan enteng membiarkan mereka menggunakan Tik-Tok secara mandiri. 

Karena orang tua seharusnya paham bahwa bisa saja yang dilihat oleh anak tidak mereka pahami, dan akan berakhir buruk jika yang dilihatnya ternyata lebih banyak bermuatan negatif, dan fatalnya dampak negatif itu kebanyakan akibatnya terjadi jauh setelah anak melihat konten kurang baik dalam Tik-Tok itu sendiri.

Mungkin akibatnya tidak bersifat langsung, tetapi itu akan mengendap dalam long term memory anak, kesalahan yang terdapat di sosial media menjadi kebenaran mutlak bagi mereka, sehingga kelak ketika mereka dewasa dan mempunyai otonomi diri, mereka beremetamorfosa dan mengimplementasikan kebenarannya yang ternyata salah itu.

Oleh karena itu, sekali lagi kita sebagai pendidik yang telah dewasa perlu bijaksana dalam menyikapi fenomena Tik-Tok dan sosial media. Bukan untuk menolak perkembangan zaman atau mengalienasi diri dari tren masyarakat, namun semata-mata guna mencegah anak-anak menjadi terpapar pengaruh negatif sosial media secara berlebihan.