Terapi menulis, adalah salah satu bagian besar dari art therapy atau terapi seni. Terapi seni mencakup semua terapi psikologis yang menggunakan pendekatan seni dalam proses terapeutiknya. Berhubung seni sendiri mencakup pemaknaan yang luas, maka terapi seni pun dapat bermacam-macam mulai terapi melukis, psikodrama, terapi menulis dan sebagainya.

Terinspirasi dari anak Difabel, Arlene on the Scene adalah sebuah buku anak yang bercerita tentang disabilitas. Buku ini bertujuan untuk menepis perbedaan dan membentuk pandangan positif pada difabel. Sang penulis, Carol Liu, berbicara kepada Disability Horizons tentang buku itu dan bagaimana dia menggunakannya untuk mengajarkan kesadaran inklusif kepada anak-anak.

Buku ini terinspirasi dari anak Marybeth Caldarone, temannya sendiri yang memiliki anak bernama Grace. Gadis itu berusia 9 tahun dan harus menggunakan penyangga besi di kaki atau kursi roda akibat gangguan Charcot Marie Tooth neuropati yang memengaruhi mobilitas.

Marybeth mengaku banyak sekali orang yang melirik anaknya karena menggunakan alat bantu tersebut. Hal ini dikhawatirkan akan berpengaruh pada kepercayaan dirinya seiring bertumbuh.

“Melalui buku Arlene on the Scene, kami ingin melakukan sesuatu untuk membantu, membuat semacam buku panduan untuk teman-teman sekolah Grace,” ujar Carol pada Disability Horizons.

Kolaborasi pun dilakukan antara Carol, Marybeth, dan Grace. Kolaborasi itu berhasil melahirkan buku Arlene On the Scene.

Mengubah Pandangan Anak-Anak Tentang Disabilitas

Tak perlu menunggu lama, buku ini kemudian menjadi seri dengan sekuel yang telah keluar pada musim semi 2013. Buku ini berisi tentang mendefinisikan kembali disabilitas bagi pembaca muda. Menyadarkan anak-anak agar memandang disabilitas bukan sebagai perbedaan yang negatif.

“Saya sekarang mengunjungi sekolah-sekolah dasar di seluruh negeri dan menggunakan buku itu sebagai landasan untuk berbicara jujur ​​tentang bagaimana kita memandang disabilitas. Bagaimana kita dapat melihatnya dari sisi yang berbeda.”

Ia mengajarkan anak-anak untuk merasa simpati dan empati secara murni. Melalui tokoh Arlene, penulis menggambarkan bagaimana cara memperilakukan atau menolong teman dengan disabilitas.

“Saya telah menghabiskan banyak waktu dengan masalah empati melalui pekerjaan saya sebagai terapis untuk anak-anak dengan tantangan emosional dan perilaku.”

Menurutnya, walaupun ada empati alami yang tersimpan dalam diri masing-masing. Namun, empati tidak selalu menjadi reaksi pertama yang timbul. Hal ini terjadi terutama ketika seseorang dihadapkan dengan perbedaan yang tidak dipahami.

Perbedaan itu biasanya membuat orang merasa tidak nyaman. Ia percaya bahwa rasa empati  adalah sesuatu yang perlu dilatih sejak dini layaknya bermain piano atau belajar menulis.

Writing therapy atau terapi menulis bukanlah sekedar menulis, lalu mempublikasikannya di media sosial sehingga orang banyak bebas menilai diri seseorang semau mereka. Terapi menulis justru bertujuan untuk menumpahkan segala rasa dan ketika membaca dan membaca lagi tulisan tersebut; timbul pencerahan mendalam yang menyebabkan si pelaku menjadi lebih tenang dan mantap  ketika mengambil suatu tindak positif.