Tahukah Anda berdasarkan riset, sebanyak 87% mahasiswa di Indonesia merasa dirinya salah jurusan? Tes Minat Bakat merupakan salah satu solusi untuk meminimalisir permasalahan tersebut. Alat tes ini mampu menggambarkan hasil yang cukup membantu bagi peserta didik, serta bagi pengampu mata pelajaran untuk sama-sama mengembangkan bakat dan minat.

Biasanya istilah Tes Minat Bakat terdengar pada jenjang pendidikan tingkat menengah. Siswa disarankan untuk melakukan Tes Minat Bakat sebelum memilih peminatan di SMA maupun program studi (prodi) untuk kuliah. Lalu apa itu Tes Minat Bakat? Apa yang akan ditemui saat melakukan Tes Minat Bakat? Berikut informasi seputar Tes Minat demi memberdayakan potensi setiap pelajar.

 

Pengertian

Bakat dapat dijelaskan sebagai kondisi atau serangkaian karakteristik yang dipersepsikan sebagai indikasi kemampuan individu dalam memperoleh pengetahuan, keterampilan atau serangkaian respon dengan melalui latihan. Jadi, bakat merupakan hasil interaksi antara faktor bawaan dengan faktor lingkungan. Kemampuan potensial yang ada dalam diri individu dan dapat berkembang apabila mendapatkan stimulasi yang tepat.

Tes Bakat Minat adalah rangkaian tes dan analisa yang menggambarkan kemampuan kognitif, karakteristik minat serta kepribadian siswa terhadap suatu bidang atau jurusan tertentu. Fungsi tes bakat dapat digunakan untuk meramalkan kinerja seseorang dikemudian hari.  Hal ini dilakukan untuk mengetahui pilihan prodi bagi siswa SMP yang akan melanjutkan pendidikannya ke SMA/Sederajat, maupun siswa SMA yang akan melanjutkan pendidikannya ke Perguruan Tinggi, sesuai dengan minat dan potensi yang dimilikinya.

Menurut Guilford, bakat memiliki tiga dimensi. Dimensi pertama yaitu dimensi perseptual yang merupakan kemampuan dalam melakukan persepsi atau kepekaan pancaindera yang berhubungan dengan kepekaan penglihatan, pendengaran, dan kinestesi. Dimensi kedua yaitu dimensi psikomotor yang meliputi 6 faktor yaitu kekuatan, impuls, kecepatan gerak atau ketepatan, ketelitian (dinamis maupun statis), koordinasi dan keluwesan atau fleksibilitas. Dimensi yang ketiga yaitu dimensi Intelektual yang meliputi faktor ingatan dan faktor berpikir atau kognisi, produksi (divergen dan kovergen), dan evaluasi.

Sedangkan menurut Thurstone, kemampuan mental individu memiliki beberapa dimensi seperti berikut ini:

  1. Verbal (V): pemahaman akan hubungan kata, kosa kata, dan penguasaan komunikasi lisan.
  2. Number (N): kecermatan & kecepatan dalam penggunaan fungsi-fungsi hitung dasar.
  3. Spatial (S): kemampuan mengenali berbagai hubungan dalam bentuk visual.
  4. Word Fluency (W): kemampuan mencermati dengan cepat kata-kata tertentu.
  5. Memory (M): kemampuan mengingat gambar, pesan, angka, kata & pola.
  6. Reasoning (R): kemampuan mengambil kesimpulan.

Alat tes bakat ini merupakan rangkaian dari beberapa subtes yang akan disajikan dalam beberapa bentuk persoalan. Dalam beberapa subtes mewakili variabel yang hendak diukur, di bawah ini merupakan subtes yang disajikan untuk mengukur bakat seseorang.

  1. Tes Penalaran Visual. Tes Ini adalah salah satu tes yang paling dekat dalam mengukur kecerdasan alami atau bawaan yaitu kecerdasan yang di dapat saat kita dilahirkan.
  2. Tes Penalaran Numerik. Tes ini mengukur potensi matematika dengan cara memahami hubungan antara angka dan mendeteksi pola.
  3. Tes Analisa Verbal. Tes ini mengukur keterampilan analisis kata dengan menyelidiki, menimbang petunjuk dan membuat kesimpulan yang masuk akal dari fakta-fakta yang diberikan.
  4. Tes Penalaran Urutan. Tes ini mengukur kemampuan penalaran secara kualitatif dengan menggunakan urutan gambar untuk mendeteksi komponen yang hilang.
  5. Tes Pengenalan Spasial. Tes ini mengukur kemampuan untuk mendeteksi, potensi diri dalam memahami masalah abstrak serta yang sering berhubungan dengan seni dan desain.
  6. Tes Tiga Dimensi. Tes ini mengukur kemampuan individu untuk melihat sesuatu secara lebih luas untuk melihat indikator potensi kreatif
  7. Tes Sistematisasi. Tes ini mengukur kemampuan untuk menganalisa dan kemampuan untuk mengorganisasi dengan memahami symbol dan ruang.
  8. Tes Kosa Kata. Tes ini mengukur kecerdasan dalam memilih dan mengekspresikan diri melalui penggunaan kata-kata, mengingat kata-kata, bentuk konsep serta ekspresi informasi serta ide-ide yang abstrak.
  9. Tes Figural Angka. Tes ini mengukur kemampuan Individu dalam aritmatika pada situasi sehari-hari.

 

Assesment dalam Penentuan Minat-Bakat

Menurut Cronbach (1990) assesmen didefinisikan sebagai suatu prosedur sistematik untuk mengobservasi dan mendeskripsikan perilaku (sampel perilaku) dengan menggunakan skala numerik atau ketegori yang ditetapkan. 

Sedangkan Smith (2002) memberikan pengertian assesmen sebagai suatu penilaian yang komprehensip dan melibatkan anggota tim untuk mengetahui kelemahan dan kekuatan yang mana hasil keputusannya dapat digunakan untuk layanan pendidikan yang dibutuhkan anak sebagai dasar untuk menyusun suatu rancangan pembelajaran.

Kegiatan assesmen dalam bimbingan konseling meliputi 2 (dua) bidang pokok, yaitu :

  • Assesmen lingkungan, terkait dengan kegiatan mengidentifikasi harapan Sekolah/Madrasah dan masyarakat (orang tua peserta didik), sarana dan prasarana pendukung program bimbingan, kondisi dan kualifikasi konselor, dan kebijakan pimpinan Sekolah/Madrasah.
  • Assesmen kebutuhan atau masalah,  menyangkut karakteristik peserta didik, seperti aspek-aspek fisik (kesehatan dan keberfungsiannya), kecerdasan, motif belajar, sikap dan kebiasaan belajar, minat-minatnya (pekerjaan, olah raga, seni, jurusan, dan keagamaan), masalah-masalah yang dialami, dan kepribadian, atau tugas-tugas perkembangannya, sebagai acuan dasar untuk memberikan pelayanan bimbingan dan konseling.

Assesmen teknik non tes paling banyak digunakan oleh konselor karena lebih sederhana. Jenis-jenis assesmen teknik non tes yaitu :

  • Daftar Cek Masalah (DCM), merupakan daftar cek yang khusus disusun untuk merangsang atau memancing pengutaraan masalah atau problem yang dialami seorang peserta didik.
  • Alat Ungkap Masalah (AUM), merupakan salah satu jenis non tes yang digunakan konselor untuk mengungkapkan masalah-masalah yang dialami peserta didik dalam proses pembelajaran.
  • Wawancara, merupakan suatu teknik memahami individu dengan cara melakukan komunikasi langsung antara konselor dengan konseli untuk mendapatkan keterangan atau informasi yang diinginkan.
  • Observasi atau pengamatan, yaitu teknik memahami individu dengan cara mengamati. Mengamati bagaimana peserta didik dalam proses belajar dan bagaimana latar belakang siswa sehingga guru BK mampu menilai seperti apa peserta didik tersebut.
  • Angket, yaitu salah satu alat pengumpul data dalam bentuk serangkaian pertanyaan atau pernyataan yang diajukan pada responden.

Ketika seorang konselor sudah mampu melakukan assesmen dengan baik dan benar. Dan mampu menciptakan komunikasi yang harmonis antara konselor dan konseli maka minat dan bakat siswa mampu teridentifikasi dan dapat mengarahkan serta membimbing siwa dalam menyongsong kehidupan di masa mendatang. Karena assesmen merupakan tolak ukur dalam suatu program perencanaan.