Sebetulnya relasi antara guru dan murid sekarang lebih cair. Kadang murid seperti teman bagi guru.  Guru tidak lagi seseram dulu. Dulu, guru adalah nara sumber utama ilmu pengetahuan .Dari mulut dan ucapan guru  murid-murid terbuka jendela wawasannya. Buku-buku belumlah sebanyak sekarang ini tersedia di toko buku atau internet. Kewibawaan guru masih terasa. Kunci keberhasilan siswa salah satunya karena peran dominan guru dalam membentuk perilaku, budi pekerti,  dan ketangguhan siswa dalam menyerap ilmu pengetahuan.

Ketika waktu terus berlalu dan kemajuan zaman tidak terelakkan, peranan guru semakin memudar. Guru tidak lagi sebagai pusat ilmu pengetahuan, bahkan sangat mungkin pengetahuan guru bisa jadi lebih sedikit dari siswa terutama dalam penyerapan teknologi digital. Anak sekarang lebih cepat memahami  aplikasi dan perangkat digital, mereka lebih responsive dan cepat menangkap peluang dan keuntungan saat menggunakan perangkat digital tersebut. Berbagai pengetahuan, tutorial, desain, fitur canggih dan aplikasi apapun bisa didownload dan kemudian bisa menjadi jendela pengetahuan baru selain guru. Peranan guru menjadi menyempit lebih ke fasilitator dan pendamping siswa belajar.

Jika guru tidak sigap melakukan perubahan dalam caranya mengajar ada kemungkinan siswa sekarang akan cepat bosan dengan metode belajar yang diterapkan guru. Jika model belajar hanya top down sementara  siswa sebetulnya sudah terlebih dahulu mengetahui apa yang diajarkan guru tentu akan  berdampak pada persepsi murid terhadap guru. Murid hanya menganggap guru sebagai orang yang lebih tua yang kebetulan lebih berpengalaman menghadapi kehidupan. Tapi masalah pengetahuan apalagi pengetahuan terbaru bisa jadi guru ketinggalan dengan siswanya. Makanya sikap, penghormatan dan perlakuan siswa terhadap guru sekarang berbeda.

Jika guru kesal karena banyak siswa kurang memperhatikan pelajaran, sebaiknya guru jangan naik pitam dahulu. Guru harus jujur pada siswa dan  mengakui bahwa pengetahuan ilmunya bisa kalah dengan siswa maka yang dilakukan guru adalah bercerita dan berbagi pengalaman hidup. Meskipun murid bisa lebih tahu daripada guru tapi pengalaman hidup tetap tidak bisa ditipu. Siswa masih perlu belajar untuk menghadapi tantangan hidup. Cerita-cerita inspiratif yang membangun karakter diri harus selalu gencar dilakukan. Pembentukan karakter itu yang terpenting diterapkan pada anak zaman now.

Harus ada keseimbangan mental untuk siswa yang cepat terkarbit kedewasaannya akibat munculnya internet, munculnya teknologi digital yang mempermudah manusia mengetahui pengetahuan baru tanpa bantuan guru. Guru virtual, pelajaran dan trik-trik pengetahuan secara mudah ditemukan di aplikasi-aplikasi yang muncul dari gawai/smartphone dan perangkat digital lainnya. Dalam sekejap dengan meng”klik” google” atau perangkat mesin pencari lainnya kata kunci itu bisa membawa  manusia ke jawaban yang diinginkan. Demikian remaja, siswa jaman sekarang. Mengerjakan tugas guru tinggal memasukkan kata kunci, maka akan muncul artikel, tutorial dan petunjuk untuk memudahkan anak sekarang mengerjakan tugas.

Mereka adalah anak zaman now yang dimanja oleh kemudahan-demi kemudahan tanpa  beranjak dari ruang belajar. Dan belajar zaman sekarang tidak hanya dilakukan di ruang  dan lingkungan yang formal. Sambil nongkrong di kafe, jalan-jalan ke tempat wisata sampai ujung dunia mereka tetap bisa belajar dan mengerjakan tugas.

Ketika muncul berita guru dianiaya murid bisa jadi guru terlambat mengakses pengetahuan, siswa lebih dahulu tahu berita itu dari internet. Akhirnya guru tergagap-gagap merespon berita yang mencoreng jejak pendidikan Indonesia. Dan ketika terjadi diskusi di kelas tampak benar bahwa banyak guru kalah sigap dalam merespon informasi yang cepat membanjir dalam ranah dunia maya.

Menjadi guru zaman sekarang harus semakin sigap terhadap perubahan, guru harus cepat memperbaiki gaya mengajarnya supaya murid tidak bosan mendengarkan pengetahuan yang sudah mereka ketahui. Peranan guru sebagai fasilitator harus ditambah menjadi agen peletak dasar revolusi mental menghadapi zaman yang bergerak cepat. Caranya? Ikut memanfaatkan teknologi sambil tetap mendampingi siswa memilah pengetahuan positif dan menyeleksi pengaruh buruk teknologi. Kemajuan zaman memang tidak bisa dihindari tapi memberi  asupan budi pekerti pada anak zaman now wajib dilakukan. Jadi, siswa zaman sekarang tidak hanya cerdas dan modern tapi juga mempunyai dasar perilaku yang baik yang bisa membedakan pengetahuan baik dan pengetahuan buruk yang membobardir pikiran. Kalau tidak ,banyak anak terjebak pada perilaku destruktif, perilaku kasar dan kurang  tata karma akibat tidak seimbangnya  penyerapan pengetahuan yang membanjir di otak dengan pendidikan budi pekerti yang sangat kurang  diajarkan di kelas.Ketika siswa merasa diatas nagin penghormatan pada guru menjadi berkurang. Dan ketika secara spontan guru marah dan melampiaskan amarahnya siswa bukannya takut malah menjawab tidakan kasar itu dengan tinju.

Guru mau tidak mau harus introspeksi, mengerti posisi dan bisa masuk dalam dunia remaja/anak muda sekarang. Relasi guru dan murid terbangun dari rasa saling percaya, penghormatan siswa sekarang mungkin terfokus pada gaya mengajar, respon guru terhadap kemajuan teknologi dan bisakah mereka secara terbuka berdiskusi tentang pengetahuan baru yang didapat dari produk teknologi. Bukan hanya sekedar melarang, tapi memberi penjelasan mengapa sebuah tindakan itu dilarang dilihat dari berbagai sisi. Menjadi guru zaman now memang perlu trik kreatif agar murid betah di kelas dan tidak melawan ketika ditegur.