Revolusi industri 4.0 mengakibatkan terjadinya perubahan paradigma pendidikan yang berfokus pada knowledge production dan innovation applications of knowledge. Salah satu elemen penting yang harus menjadi perhatian untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dan daya saing bangsa di era revolusi industri 4.0 adalah mempersiapkan sistem pembelajaran yang lebih inovatif, dan meningkatkan kompetensi lulusan yang memiliki keterampilan abad ke-21 (Learning and Innovations Skills).

Terdapat banyak pendapat tentang apa saja keterampilan abad ke-21, salah satu pendapat adalah 4C (Critical thinking, Creativity, Collaboration and Communication). Critical thinking (berpikir kritis) adalah semua hal tentang keterampilan memecahkan masalah. Creativity (kreativitas) adalah hal tentang keterampilan berpikir outside the box, mencoba pendekatan baru untuk menyelesaikan sesuatu, inovasi, dan penemuan. Collaboration (kolaborasi) adalah keterampilan bagaimana seseorang bekerja sama, saling bersinergi, beradaptasi dalam berbagai peran dengan orang lain untuk mencapai tujuan bersama. Sedangkan Communication (komunikasi) adalah keterampilan untuk menyampaikan dan berbagi pemikiran, pertanyaan, gagasan dan solusi mereka dengan cara terbaik. 

Penerapan pendekatan saintifik, pembelajaran abad 21 (4C), HOTS, serta integrasi literasi & PPK dalam pembelajaran bertujuan untuk meningkatkan mutu pendidikan dalam rangka menjawab tantangan, baik tantangan internal dalam rangka mencapai 8 SNP dan tantangan eksternal, yaitu globalisasi.

I. Keterampilan berpikir kritis (Critical Thinking)

Berpikir kritis saat ini menjadi salah satu kecakapan hidup (life skill) yang perlu dikembangkan. Melalui kemampuan berpikir seseorang akan dapat mencermatidan mencari solusi atas segala permasalahanyang dihadapidalam kehidupannya. Berpikir kritis termasuk kemampuan individu untuk a) alasan secara efektif, b) mengajukan pertanyaan dan memecahkan masalah, c) menganalisis dan mengevaluasi, d) mencerminkan secara kritis keputusan dan proses.

Menurut Ennis (1996) terdapat 6 unsur dasar dalam berpikir kritis yang disingkat menjadi  FRISCO :

  • F (Focus): memfokuskan pertanyaan atau isu yang ada untuk membuat keputusan tentang apa yang diyakini.
  • R (Reason): mengetahui alasan-alasan yang mendukung atau menolak putusan putusan yang dibuat berdasar situasi dan fakta yang relevan.
  • I (Inference): membuat kesimpulan yang beralasan atau meyakinkan. Bagian penting dari langkah penyimpulan ini adalah mengidentifikasi asumsi dan mencari pemecahan, pertimbangan dari interpretasi terhadap situasi dan bukti.
  • S (Situation): memahami situasi dan selalu menjaga situasi dalam berpikir untuk membantu memperjelas pertanyaan (dalam F) dan mengetahui arti istilah-istilah kunci, bagian-bagian yang relevan sebagai pendukung.
  • C (Clarity): menjelaskan arti atau istilah-istilah yang digunakan.
  • O (Overview): meninjau kembali dan meneliti keputusan yang diambil.

Collins (2014) memberikan sejumlah langkah yang dapat dilakukan guru dalam melatih keterampilan berpikir. sebagai berikut:

  1. Mengajarkan HOTs secara spesifik dalam ranah pembelajaran
  1. Melaksanakan tanya-jawab dan diskusi pada skala kelas
  2. Mengajarkan konsep secara eksplisit
  3. Memberikan scaffolding
  4. Mengajarkan HOTs secara continue

II. Keterampilan berpikir kreatif (Creative Thinking)

Merupakan keterampilan yang berhubungan dengan keterampilan menggunakan pendekatan yang baru untuk menyelesaikan suatu permasalahan, inovasi, dan penemuan. Keterampilan ini merupakan suatu tindakan yang benar-benar baru dan asli, baik secara pribadi (asli hanya untuk individu) atau secara budaya (Abdullah dan Osman, 2010). Kesediaan siswa untuk berpikir tentang masalah atau tantangan, berbagi pemikiran itu dengan orang lain dan mendengarkan umpan balik, merupakan beberapa contoh berpikir kreatif yang dapat ditunjukkan oleh siswa dalam pembelajarannya.

Berpikir kreatif akan menghasilkan generasi kreatif yang memiliki potensi untuk memecahkan masalah sosial dan lingkungan yang kompleks. Untuk membangun kecakapan kreatif yang efektif, siswa harus belajar untuk

  1. Menggunakan berbagai teknik pembuatan ide (seperti brainstorming)
  2. Membuat ide baru dan bermanfaat (keduanya konsep inkremental dan radikal)
  3. Menyempurnakan, menganalisis, dan mengevaluasi ide mereka sendiri untuk meningkatkan dan memaksimalkan upaya kreatif
  4. Bertindak atas ide-ide kreatif untuk membuat kontribusi yang nyata dan berguna pada bidang dimana inovasi tersebut dilakukan

Menurut Kivunja (2014), beberapa kecakapan terkait kreatifitas yang dapat dikembangkan dalam pembelajaran adalah: (1) Mampu menyelesaikan permasalahan nyata dalam kehidupan sehari-hari; (2) Bersikap terbuka dan memiliki rasa ingin tahu; (3) Mampu memanfaatkan kemampuan dan keterampilannya dalam menganalisis, mengevaluasi, mengelaborasi dan mencipta; Dan (4) Mampu menggunakan berbagai strategi berpikir kreatif (seperti mind mapping, visual creativity, word association, SWOT analysis, and lateral thinking) untuk menemukan dan mengungkapkan ide-ide baru.

 

III. Keterampilan berkomunikasi (Communication)

Merupakan keterampilan untuk mengungkapkan pemikiran, gagasan, pengetahuan, ataupun informasi baru yang dimiliki baik secara tertulis maupun lisan (NEA, 2010). Keterampilan ini mencakup keterampilan mendengarkan, menulis dan berbicara di depan umum.

Tujuan utama komunikasi adalah mengirimkan informasi atau pesan agar dapat dimengerti oleh penerima. Namun, tidak semua orang mampu melakukan komunikasi dengan baik. Ada orang yang mampu dengan baik menyampaikan informasi secara lisan tetapi tidak secara tulisan, ataupun sebaliknya. Beberapa teknik dalam upaya membangun komunikasi yang efektif diantaranya adalah:

  1. Ide pesan utuh, tidak memiliki makna ganda dan diucapkan dengan jelas, tegas dan tidak berbelit-belit.
  2. Komunikator memahami betul lawan bicara.
  3. Informasi disampaikan dengan bahasa penerima informasi dan disesuaikan dengan kemampuan serta tingkat kognisi penerima informasi.
  4. Pembawa pesan harus mengendalikan noise dan mencari umpan balik untuk meyakinkan bahwa informasi yang disampaikan dapat diterima oleh lawan bicara

Trilling dan Fadel (2009) menyarankan beberapa strategi yang harus dilakukan guru dalam untuk membangun keterampilan komunikasi abad 21 pada diri siswa dengan efektif. Beberapa strategi tersebut meliputi:

  1. Mengajarkan siswa bagaimana mengartikulasikan pikiran dan gagasan secara lisan, tulis dan keterampilan komunikasi non-verbal dalam berbagai bentuk dan konteks.
  2. Mengajarkan siswa bagaimana mendengar aktif dan efektif. Hal ini akan membantu siswa menafsirkan dan memahami makna dalam komunikasi, dengan mempertimbangkan latar belakang budaya, nilai, sikap, dan niat.
  3. Mengajarkan siswa bagaimana menggunakan komunikasi untuk berbagai tujuan.
  4. Mengajarkan siswa bagaimana memanfaatkan berbagai media dan teknologi, serta bagaimana menilai efektivitasdan dampak dari media dan teknologi tersebut.
  5. Melatih siswa untuk berkomunikasi secara efektif di lingkungan yang beragam, termasuk juga menggunakan berbagai bahasa.

 

IV. Keterampilan Kolaborasi (Collaboration)

Kolaborasi merupakan trend pembelajaran abad ke-21 yang menggeser pembelajaran berpusat pada guru menjadi pembelajaran kolaboratif. Lingkungan pembelajaran kolaboratif menantang siswa untuk mengekspresikan dan mempertahankan posisi mereka, dan menghasilkan ide-ide mereka sendiri berdasarkan refleksi. Dalam keterampilan kerja kelompok; mereka dapat berdiskusi, mencari klarifikasi, dan berpartisipasi dengan tingkat berpikir tinggi.

Kecakapan kolaborasi yang dapat dikembangkan dalam pembelajaran seperti dikemukakan Kivunja, C. (2014), antara lain sebagai berikut

  1. Bertanggung jawab dalam bekerja-sama dengan orang lain untuk menghasilkan tujuan tertentu. 
  2. Menghargai dan menghormati pendapat yang berbeda
  3. Mampu bekerja efektif dan fleksibel dalam tim yang beragam
  4. Mampu berkompromi dengan anggota yang lain dalam tim demi tercapainya tujuan yang telah ditetapkan.

Beberapa strategi yang dapat ditempuh guru dalam menumbuhkan ketempilan kolaboratif dalam pembelajarannya adalah:

  1. Mengajarkan siswa untuk bekerja dengan hormat dengan tim yang berbeda, tidak hanya secara fisik tetapi juga psikis.
  2. Mengajarkan fleksibilitas dan keinginan untuk berkompromi sehingga tujuan yang menguntungkan semua pihak yang berkolaborasi dapat tercapai.
  3. Melatih dan mendorong siswa untuk mengambil tanggung jawab untuk bekerja bersama dengan orang lain.
  4. Mengajarkan siswa untuk menghargai ide dan kontribusi dari setiap anggota tim dimana mereka menjadi bagian dari tim tersebut.
  5. Menekankan lima prinsip pembelajaran kooperatif yaitu ketergantungan positif, akuntabilitas individu, partisipasi yang sama, pengolahan kelompok dan interaksi simultan dalam pengembangan keterampilan kolaboratif

Agar keberhasilan pemberdayaan keterampilan abad 21 dapat diketahui dengan baik, kita ebagai guru perlu melakukan assesmen keterampilan-keterampilan tersebut dengan menggunakan instrumen assesmen (rubrik penilaian) yang ada. Semoga bermanfaat. Salam Pendidikan!