Secara akademik pendidikan karakter dimaknai sebagai pendidikan nilai, pendidikan budi pekerti, pendidikan moral, pendidikan akhlak yang tujuannya mengembangkan kemampuan peserta didik untuk memberikan keputusan baik atau buruk, dan mewujudkan kebaikan dalam kehidupan sehari-hari dengan sepenuh hati.

Dewasa ini berbagai penyimpangan dan perilaku tidak jujur berkembang dalam masyarakat, misalnya mentalitas menempuh jalan pintas dengan mengabaikan aturan yang ada, sikap materialistik dan individualistik terjadi di kalangan generasi muda. Di lembaga pendidikanpun terjadi bentuk-bentuk ketidakjujuran yang dilakukan oleh individu-individu di sekolah, mulai dari siswa menyontek, alasan tidak masuk sekolah, alasan tidak mengerjakan PR, alasan datang terlambat dan lain-lain. Belum lagi dipihak guru, yaitu adanya oknum guru yang membocorkan soal ujian nasional, pengkatrolan nilai dan sebagainya.

Kejujuran adalah salah satu karakter bangsa Indonesia yang tercermin dalam pancasila yang termasuk dalam nilai-nilai Kemanusian yang Adil dan Beradab yang tercantum dalam Pancasila. Kejujuran termasuk ke dalam nilai moral. Prilaku jujur adalah dasar dari segala prilaku terpuji lainnya. Karakter jujur ini penting dan harus dimiliki semua generasi muda Indonesia agar kedepan tercipta generasi-generasi dengan kualias terbaik yang memiliki sikap jujur agar kelak pemerintahan pun dipegang orang-orang jujur. Dan orang yang jujur cenderung bersikap adil.

Salah satu kunci dari keberhasilan dalam proses pembelajaran bukan hanya dilihat dari aspek keberhasilan seorang siswa (murid) mendapatkan nilai yang bagus, tetapi yang lebih penting adalah sejauh mana seorang guru membangun dan menanamkan nilai-nilai akhlak mulia dalam konteks kehidupan sehari-hari. Banyak bukti menunjukkan bahwa pelaksanaan pendidikan karakter di sekolah ternyata membantu menciptakan kultur sekolah menjadi lebih baik, peserta didik merasa lebih aman, dan lebih mampu berkonsentrasi dalam belajar sehingga prestasi mereka meningkat. 

Jeane H. Ballantine (1983) menyatakan bahwa fungsi pendidikan dalam masyarakat itu sebagai berikut:

  1. Fungsi sosialisasi;

Generasi baru belajar mengikuti pola perilaku generasi sebelumnya tidak melalui lembaga sekolah seperti sekarang ini. semua orang dewasa adalah guru, tempat di mana anak-anak meniru, mengikuti dan berbuat. Hal itu merupakan bagian dari perjuangan hidupnya. Segala sesuatu yang dipelajari berguna dan berefek langsung bagi kehidupannya sehari-hari. Sekolah sebagai lembaga yang berfungsi untuk mempertahankan dan mengembangkan tatanan-tatanan sosial serta kontrol sosial mempergunakan program-program asimilasi dan nilai-nilai subgrup beraneka ragam, ke dalam nilai-nilai yang dominan yang memiliki dan menjadi pola anutan bagi masyarakat.

1. Fungsi pelestarian Budaya Masyarakat;

Sekolah  juga harus melestanikan nilai-nilai budaya yang masih layak dipertahankan seperti bahasa daerah, kesenian daerah, budi pekerti dan suatu upaya mendayagunakan sumber daya lokal bagi kepentingan sekolah dan sebagainya.

2. Fungsi pendidikan dan Perubahan Sosial;

Lembaga-lembaga pendidikan disamping berfungsi sebagai penghasil nilai-nilai budaya baru, jg dapat memberikan kemudahan-kemudahan serta memberikan dorongan bagi terjadinya perubahan sosial yang berkelanjutan.

3. Fungsi Sekolah dalam Masyarakat;

Fungsi sekolah sebagai partner masyarakat akan dipengaruhi oleh fungsional tidaknya pendayagunaan sumber-sumber belajar di masyarakat. Kekayaan sumber belajar dalam masyarakat seperti adanya lembaga gereja, masjid, perpustakaan, museum, surat kabar dsb dapat digunakan oleh sekolah dalam menunaikan fungsi pendidikan.

Peran guru dalam membangun tradisi kejujuran akademik ada pada Tiga aspek, yaitu:

pertama; membangun kejujuran harus dimulai dari dirinya sendiri sebagai seorang guru, yakni antara perkataan, perbuatan dan tindakan harus sesuai dengan norma yang berlaku.

Kedua; sebagai seorang guru, yang tugas utamanya adalah mendidik, melatih, mengarahkan, menilai dan mengevaluasi kepada peserta didiknya, maka guru mempunyai kewajiban untuk membentuk karakter anak didiknya memiliki sikap disiplin, jujur, mandiri, demokratis dan bertangungjawab.

Ketiga; guru secara akademik juga mempunyai tanggung jawab untuk membesarkan lembaga (sekolah), maka dalam konteks ini guru harus mampu membangun dan memberi keteladan kepada teman seprofesinya untuk terus menerus menanamkan nilai-nilai kejujuran baik untuk dirinya (teman seprofesi), maupun peserta didiknya melalui mata pelajaran yang di ampu.

Itulah sedikit penjelasan yang Tim Teachin.id berikan. Semoga menginspirasi dan memotivasi kita semua para pelaku pendidikan, agar dapat berjuang bersama mempertahankan dan menanamkan pendidikan karakter yang baik dan berakhlak mulia kepada anak dan cucu kita; serta kepada diri dan lingkungan masing-masing. Salam Pendidikan!