Menjadi guru merupakan profesi yang sangat dibutuhkan dalam kehidupan terutama dalam pembinaan generasi muda yang akan melanjutkan pembangunan bangsa ini. Sebagai tenaga pengajar guru dalam kegiatan di kelas tentu melibatkan kemampuan mempresentasikan suatu topik atau mendemonstrasikan suatu keterampilan sedemikian rupa sehingga para murid dapat memahami dan menguasai materi tersebut.

perlu diketahui bahwa siswa adalah individu unik yang memiliki kekuatan, kelemahan dan tradisi budaya yang berbeda. Sejumlah keberagaman ini mungkin mencerminkan perbedaan kelompok (group different) seperti jenis kelompok etnis, tingkat penghasilan keluarga, lingkungan tempat tinggal dsb. Mungkin juga keberagaman yang bersumber dari perbedaan individual (individual different) yang akan mempengaruhi kedisiplinan murid dalam pembelajaran yang juga memunculkan masalah di kelas.

Sebelum Anda menentukan aksi ketika mengalami gangguan saat mengajar, kenali dahulu mengapa murid berlaku demikian. Karena pada kasus Anak, persentase kenakalan mereka banyak diakibatkan oleh permasalahan keluarga (seperti broken-home, kurang perhatian dll) serta kurang baiknya lingkungan sosial mereka, seperti lingkungan dengan bahasa yang tidak sopan atau bahkan pembulian. Selain ke-dua faktor tersebut, ada pula faktor lainnya yang bisa membuat Murid bermasalah dalam belajar.

 

Penyebab Murid Mengalami Gangguan Belajar, ditinjau dari (Santrock. 2002:307, Anak yang mengalami gangguan belajar (learning disabilities)) adalah:

  1. Tingkat kecerdasannya di bawah normal atau di atas normal
  2. Memiliki kesulitan-kesulitan di dalam beberapa bidang akademis, tetapi biasanya tidak memperlihatkan kekurangan-kekurangan di bidang-bidang lain.
  1. Menderita beberapa kondisi atau kelainan lain yang dapat menjelaskan masalah-masalah belajar mereka.

 

Tiga (3) Aspek Kemampuan Pada Murid

Selajutnya bila ditinjau dari sasaran pendidikan dan pembelajaran yaitu dicapainya kesempurnaan dan terhindarnya mereka dari gangguan tingkah laku negatif, kemampuan belajar anak atau peserta didik dikatakan sempurna jika memenuhi tiga aspek kemampuan berikut ini:

  1. Aspek kemampuan afektif.

Aspek kemampuan yang berkaitan dengan nilai dan sikap. Penilaian pada aspek ini dapat terlihat antara lain pada kedisiplinan atau sikap hormat terhadap guru. Aspek afektif ini berkaitan erat dengan kecerdasan emosi (EQ) anak.

  1. Aspek kemampuan psikomotorik.

Aspek yang berkaitan dengan kemampuan gerak fisik yang mempengaruhi sikap mental. Aspek ini menunjukkan kemampuan atau keterampilan (skill) anak setelah menerima sebuah pengetahuan.

  1. Aspek kemampuan kognitif.

Aspek kemampuan yang berkaitan dengan kegiatan berpikir. Aspek ini sangat berkaitan dengan inteligensi (IQ) atau kemampuan berpikir anak. Sejak dahulu, aspek kognitif selalu menjadi perhatian utama dalam sistem pendidikan formal.

 

CARA MENGATASI: Strategi Manajemen Kelas

            Menurut W. Doyle (dalam Ormrod, 2002:229). Guru yang efektif bukan hanya merencanakan dan menstruktur siswa di kelas, juga untuk meminimalkan masalah perilaku yang potensial, juga secara aktif menyikapi perilaku yang tidak biasa yang sering ditunjukkan oleh muridnya.

Salah satunya adalah dengan Strategi Manajemen Kelas. Pakar manajemen kelas, Carolyn Evertson dan rekannya membedakan antara intervensi minor dan moderasi dalam menangani perilaku bermasalah. Berikut Penjelasan yang Tim Teachin.id rangkum:


INTERVESI MINOR

Beberapa masalah hanya membutuhkan intervensi minor atau kecil. Masalah-masalah yang kerap muncul biasanya mengganggu aktifitas belajar di kelas. Misalnya, murid mungkin ribut sendiri, meninggalkan tempat duduk tanpa ijin, bercanda, atau bermain gadget. Strategi yang efektif antara lain adalah:

  • Gunakan isyarat non verbal

Jalin kontak mata dengan murid. Kemudian beri isyarat dengan meletakkan telunjuk jari di bibir anda, menggeleng kepala, atau menggunakan isyarat tangan untuk menghentikan perilaku tersebut.

  • Mendekati murid

Saat murid mulai bertindak menyimpang. Anda cukup mendekatinya, maka biasanya Murid akan diam dan kembali memperhatikan pelajaran.

  • Arahkan perilaku

Jika murid mengabaikan tugas yang kita perintahkan, ingatkan mereka tentang kewajiban itu. Dan berikan pengertian demi kebaikan mereka sendiri bahwa belajar seharusnya dijadikan kebutuhan, bukan sekedar kewajiban.

  • Beri instruksi yang dibutuhkan

Terkadang siswa melakukan kesalahan kecil saat tidak memahami cara mengerjakan tugas. Untuk mengatasinya anda harus memantau murid dan memberi mereka petunjuk apabila dibutuhkan.

  • Beri murid pilihan

Berilah murid tanggung jawab dengan memilih dua pilihan, bertindak benar atau menerima konsekuensi negatif. Beri tahu murid bagaimana tindakan benar tersebut dan bagaimana konsekuensi bila melanggar.

 

 INTERVENSI MODERAT

Beberapa perilaku yang salah membutuhkan intervensi yang lebih kuat ketimbang yang baru saja dideskripsikan pada intervensi minor, misalnya: Ketika murid menyalah gunakan aktifitasnya, bolos kelas, mengganggu pelajaran, mengganggu pekerjaan murid lain atau bahkan berkelahi. Berikut adalah strategi yang bisa dilakukan:

  • Jangan beri privilese atau aktifitas yang mereka inginkan

Bila anda memperbolehkan murid untuk berkeliling kelas atau mengerjakan tugas dengan murid lain dan ia malah menyalahgunakan privilese yang anda berikan atau mengganggu pekerjaan temannya, maka anda bisa mencabut privilesenya.

  • Buat perjanjian behavioral

Buatlah perjanjian yang bisa disepakati oleh semua murid. Perjanjian ini harus merefleksikan masukan dari kedua belah pihak yaitu guru dan murid. Jika muncul problem dan murid tetap keras kepala, guru bisa merujuk pada kesepakatan bersama yang telah dibuat.

  • Pisahkan atau keluarkan murid dari kelas

Bila murid bersenda gurau dan bersikap tidak mengindahkan peringatan, anda bisa memisahkan ia dari murid disekitarnya ataupun mengeluarkannya dari dalam kelas.

  • Kenakan hukuman atau sanksi

Menggunakan hukuman sebaiknya tidak melakukan tindakan kekerasan, tetapi bisa dilakukan dengan memberikan tugas mengerjakan soal atau menulis halaman tambahan.