Apa yang harus dilakukan saat mengikuti job fair? Hal-hal apa yang bisa mendukung kesuksesan para pencari kerja di job fair? Teachin.id akan membahas  tips sukses mengikuti job fair untuk para pencari kerja.

Job Fair dan Fenomena Pencari Kerja Indonesia

Job fair atau yang biasa disebut dengan career fair atau career expo adalah sebuah tempat yang mewadahi perusahaan-perusahaan untuk bertemu dengan pencari kerja profesional. Dalam job fair, karyawan, perekrut serta sekolah atau kampus saling memberikan informasi secara dua arah.

Pada titik ini, para pencari kerja mendatangi masing-masing titik dengan performa terbaik mereka untuk memberi kesan yang baik saat bertemu “wajah” dari perusahaan secara langsung. Tidak hanya bertemu, akses tanya jawab juga bisa didapatkan langsung pada acara ini.

Jenis-jenis Job Fair Berdasarkan Kondisi Fisiknya

Terdapat dua jenis job fair yang umum dilaksanakan di Indonesia yaitu in-person danonline job fairIn-person job fair adalah ajang pertemuan dua pihak yaitu perusahaan pencari karyawan dan para pencari kerja.

Job fair ini biasanya diselenggarakan di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) atau kampus. Meskipun diperuntukkan untuk umum, tetapi tujuan utama dari job fair tersebut adalah agar para calon lulusan bisa belajar untuk mengetahui bagaimana bentuk suatu lingkungan pekerjaan sesuai bidang yang diinginkan.

Satu lagi jenis job fair yang baru-baru ini juga banyak diminati yaitu online job fair. Dinilai lebih nyaman dari job fair lainnnya karena tidak menyebabkan nervous saat bertemu langsung dengan pewawancara kerja, online job fair semakin ramai diperbincangkan.

Dalam sebuah situs adakalanya para pencari kerja mendiskusikan jenis pekerjaan apa yang sedang dibuka peluangnya. Kegiatan ini jelas sangat bermanfaat sebagai referensi tambahan dan peluang mendapat pekerjaan atau teman.

Seorang pencari kerja sebaiknya mengikuti kedua jenis job fair di atas. Karena selain bisa menambah jaringan pertemanan, informasi atas pekerjaan yang paling sesuai juga lebih mudah diakses.

Namun demikian, jika sudah mendapat pekerjaan yang cocok sebaiknya jangan terus mengikuti job fair. Selain menyebabkan “lapar mata”, hal ini juga bisa menjadikan seseorang sebagai “kutu loncat” perusahaan. Jangan melakukan hal ini jika tidak ingin mendapat cap buruk atau di blacklistperusahaan-perusahaan.

Tips Sukses Mengikuti Job Fair untuk Para Pencari Kerja

Adakalanya, momen job fair menjadi ajang unjuk bakat antar pencari kerja. Hal ini dipengaruhi oleh jumlah pencari kerja dan perusahaan tidak seimbang.

Jadi, pastikan untuk memberikan performa terbaik saat berada di sana. Meskipun jumlah pencari kerja sangat banyak, jangan pernah merasa inferior dengan kemampuan diri sendiri.

Tips 1: Pemilihan Dresscode Yang Tepat

Dresscode yang umum digunakan saat job fair adalah pakaian formal. Untuk pria, gunakan kemeja dan celana berwarna gelap. Sepatu yang dipilih bisa berasal dari jenis pantofel pria.

Kombinasi warna jangan sampai terlalu meriah, karena suasana job fair cukup ramai dan warna meriah bisa cukup mengganggu. Gunakan belt atau vest, atau bisa ditambahkan jas agar semakin meningkatkan outlook.

Para pencari kerja wanita sebaiknya menggunakan blazer. Blazer adalah pakaian yang paling nyaman digunakan saat bekerja. Meskipun demikian, pemilihan kemeja juga dapat dilakukan, tergantung jenis pekerjaan apa yang diincar dan karakter masing-masing.

Rok yang dipilih sebaiknya berpotongan span karena lebih banyak digunakan pekerja kantoran. Tetapi jika tidak nyaman dengan span, rok lipit dan potongan A juga bisa dipilih. Untuk aksesoris, tidak ada kriteria khusus selama penggunaannya tidak berlebihan.

Hindari penggunaan celana jeans bagi pria maupun wanita. Hal ini sangat mengganggu dan mengurangi nilai formal acara job fair. Intinya, pakaian harus mencerminkan wibawa. Selain itu, pakaian akan menjadi citra diri masing-masing personal.

Tips 2: Perhatikan Perusahaan Apa Saja Yang Terlibat

Saat membaca brosur atau melihat informasi di website, biasanya logo perusahaan yang terlibat akan muncul.

Hal inilah yang dapat dimanfaatkan sebagai sarana mengetahui tipe-tipe perusahaan tersebut. Misalnya saja jika yang banyak terlibat dalam acara adalah perusahaan e-commerce, maka jenis resume yang dibuat bisa mengarah pada ­e-commerce meskipun masih global.

Jika lebih banyak perusahaan internasional yang membutuhkan karyawan, buat juga CV dan lamaran pekerjaan dalam bahasa asing, umumnya bahasa Inggris. Dengan membuat CV serta surat lamaran tersebut, ada tiga keuntungan yang bisa diperoleh.

Pertama, CV bisa terlihat lebih unik dan “ditandai” oleh perusahaan. Kedua, pelamar akan merasa lebih percaya diri dengan kemampuan bahasa Inggrisnya. Ketiga, hal ini mungkin bisa membantu perusahaan mencarikan link ke perusahaan asing yang tidak ikut job fair.

Tips 3: Maksimalkan Jumlah Persediaan CV dan Surat Lamaran

Apabila sudah mengetahui jumlah dan jenis perusahaan yang terlibat, langkah selanjutnya adalah menyiapkan jumlah CV dan surat lamaran pekerjaan semaksimal mungkin.

Agar surat lamaran menjadi berbeda dari pelamar lainnya, para pencari kerja harus kreatif dan unik. Tidak hanya itu, segudang akta, sertifikat dan piagam juga dapat dipilih sebagai penunjang.

Namun, ada 3 hal yang harus diperhatikan saat membawa segala berkas tersebut yakni penyimpanan. Bawa tas ransel pipih yang biasa dipakai untuk laptop. Letakkan dokumen-dokumen pada map kaku yang bentuknya lebih kecil dari tas.

Hal ini akan membantu dalam proses membawa dan menjaga berkas penting tersebut. Hindari membawa dokumen yang kusam, terlipat atau basah. Hal ini akan membuat pihak perusahaan langsung merasa tidak nyaman.

Tips 4: Kurangi Nervous Dengan Melatih Jawaban Interview Sebelumnya

Selain CV dan surat lamaran, salah satu aspek terpenting dalam job fair adalah prosesinterview atau wawancara. Dalam proses ini perusahaan akan menilai, mana pelamar yang sesuai dengan kualifikasi dan mana yang tidak.

Pertanyaan-pertanyaan interview setiap perusahaan sangat relatif, tergantung dari jenis jabatan dan tipe perusahaan tersebut. Ada perusahaan yang pertanyaannya standar dan ada pula yang agak unik.

Meskipun seorang pelamar sudah cukup qualified, tetapi hal itu tidak serta merta bisa menjaminnya diterima dengan baik oleh perusahaan impian. Beberapa faktor menjadi penyebab kegagalan interview dan salah satunya adalah terlalu merasa nervous.

Saat nervous, seseorang tidak bisa berkonsentrasi penuh terhadap pertanyaan sehingga kadang malah mengeluarkan statement yang salah.

Untuk mengatasi masalah ini, para pencari kerja harus melakukan berbagai persiapan. Jenis-jenis pertanyaan interview bisa dicari di internet sehingga jawaban yang paling sempurna tanpa mengurangi jati diri.

Selain itu, berlatih di depan cermin juga akan meningkatkan kepercayaan diri dan mengurangi rasa nervous.

Tips 5: Optimalisasi Energi dan Waktu Dengan Skala Prioritas

Pada umumnya job fair hanya berlangsung selama 1 – 3 hari. Sementara itu, jumlah pelamar dan perusahaan yang terlibat sangat banyak dan suasana bisa menjadi membingungkan. Agar tidak terjebak chaos, skala prioritas perlu dibuat.

Mana perusahaan yang paling diinginkan dan mana yang menjadi alternatif. Selain menghemat waktu dengan tidak mengantri di tempat yang salah, energi juga bisa dihemat sehingga performa saat interview tidak menurun.

Hal yang perlu dihindari adalah menunggu antrian yang terlalu panjang. Jadi, saat sebuah perusahaan terlalu ramai sebaiknya pelamar mencari titik lain. Ada beberapa aspek yang perlu digarisbawahi.

Pertama, mengantri kadang dilakukan dengan berdiri dan mengakibatkan kelelahan. Kedua, jika terlalu banyak pelamar yang tertarik di satu tempat, maka bisa jadi taraf penyeleksiannya dibuat semakin ketat. Ketiga, apabila tempat lain sudah penuh, maka tempat lainnya akan lebih sepi dan memperkecil jumlah saingan di sana.

Tips 6: Koneksi dan Pertemanan Selalu Penting

Saat bertemu orang baru, pastikan untuk membangun koneksi dan pertemanan. Meksipun tidak bisa memastikan seseorang dapat diterima oleh perusahaan, tetapi koneksi tetap akan membantu. Orang yang dikenal tentu lebih dipercaya daripada orang asing.

Sebenarnya, membangun jaringan tidak hanya dilakukan saat memerlukan pekerjaan tetapi setiap saat. Bukan hanya agar dibantu, tetapi saat sudah mendapat pekerjaan seseorang juga bisa membantu temannya.

Misalnya saja jika seorang pelamar dengan latar belakang teknik industri bertemu dengan pelamar lain yang berasal dari jurusan sastra. Apabila perusahaan di job fair tidak ada yang membutuhkan seorang lulusan teknik industri, maka sementara waktu pelamar tersebut dapat mengajukan pada perusahaan yang menerima lulusan S1 apa saja, sambil terus mencari pekerjaan yang sesuai jurusan. Siapa tahu, kenalan lulusan sastra yang dikenal saat job fair bisa membantu di saat-saat berikutnya. Menjalani Job Fair Sebagai Proses Memulai Karier Banyak orang yang sulit untuk mendapatkan pekerjaan impian tetapi akhirnya dapat tersenyum di kemudian hari. Hal ini merupakan perputaran yang biasa dalam kehidupan pekerjaan. Jadi, menjalani job fair yang dilakukan sebaik mungkin bisa menjadi titian pertama untuk proses memulai karier dan kehidupan lebih mapan Anda.