Bagaimana rasaanya melihat senyuman merekah bertebaran, lahir dari jiwa buah hati kita? Tentu sangat menyejukkan dan tidak akan pernah bisa tertukar oleh apapun, bukan?

Ya, Field Trip atau pembelajaran dengan pendekatan wisata ini memang sangat 'jegger' alias powerful. Bagi kami, para guru, kebahagiaan itu sederhana. Kami bahagia bila 'engkau Nak' senang dan menikmati proses belajar. Tidak hanya pada satu proses pembelajaran, akan tetapi pada setiap proses pembelajaran. Kami juga senang jika kami para guru bisa menjadi tempat terbaik bagi para orang tua dalam proses belajar itu.

Lebih dari pada itu, field trip dapat me-refresh jalinan komunikasi orang tua dengan guru.  Mungkin Anda bertanya2 kok bisa ya? Ya, kata kuncinya adalah "Keterlibatan" alias "Involvement."

Bayangkan pada saat Anda melibatkan seluruh element, mulai dari orang tua, rekanan teacher, management sekolah dan anak anak didik kita dalam pembelajaran. Tentu sangat menjadikan proses pendidikan lebih renyah dari apa yang kita bayangkan sebelumnya.

Kebayang kan?

Ya Anda sekarang bertanya-tanya lagi apa hubungannya field trip dengan proses komunikasi orang tua dan guru.

Jawabannya adalah proses pembelajaran yang membahagiakan itu. Kalau anak-anak belajar di sekolah dengan penuh rasa senang, maka orang tua di rumah akan merasa senang mendengar cerita-cerita mereka di sekolah. Dari sanalah orang tua dan guru dapat mempererat tali komunikasi.

Tentu bukan hanya field trip, banyak hal dan cara-cara asyik untuk dikembangkan di kelas. Tapi yang ingin saya garis bawahi adalah, Field Trip ini adalah salah satu metode mengajar yang banyak melibatkan anak. Saya jadi teringat apa yang dikatakan Benjamin Franklin, “Katakan padaku, aku akan lupa. Ajari aku, dan akan ingat. Tapi, libatkanlah aku, aku akan belajar.”

 

-Mr. samsul

Guru