PERKEMBANGAN teknologi informasi yang mengemuka di kehidupan manusia sepuluh tahun terakhir mendesak dirumuskan kembali dalam konteks pendidikan literasi. Kerangka literasi ini dapat didedah melalui perspektif epistemologis, ontologis, dan aksiologis.

Derasnya informasi di jagat daring mendera konstruksi berpikir manusia. Di satu sisi ia mendapatkan bejibun pengetahuan, tapi di lain sisi otaknya “lumpuh” karena menjadi budak dari informasi yang saling sengkarut itu.

Persoalan demikian, karena itu, dapat dianalisis sebagai sebuah fenomena baru yang mendekonstruksi definisi literasi yang tak lagi bermakna seputar membaca dan menulis. 

Kedudukan informasi dalam proses perkembangan intelektual manusia berperan sebagai gerbang awal sebelum memasuki tahap “mengetahui”. Selanjutnya, ia diikuti fase “memahami” yang secara tak langsung membentuk cakrawala baru yang lebih terang.

Dua titik antara “mengetahui” dan “memahami” itu dijembatani oleh kecakapan literasi yang dewasa ini kerap didengungkan pendidikan modern sebagai terobosan baru dalam pembentukan individu yang melek pengetahuan.

Persoalan literasi di atas belum ditempatkan sebagai pembelajaran di kelas—bila dikaitkan dengan proses pendidikan dalam konteks sekolah—karena masing-masing pelajaran masih diberlakukan sebagai muatan informasi.

Model pendidikan tanpa mempertimbangkan kompetensi literasi akan berdampak pada pembentukan kecenderungan siswa yang gemar membeo pada pengetahuan tertentu yang diyakininya benar. Ia tak memberi ruang kosong pada pelbagai kemungkinan pengetahuan lain, karena apa yang dari luar itu telah ditampiknya sebagai kesalahan.

Citra tersebut bisa dikaitkan dengan fenomena perseorangan atau kelompok yang berlindung dari perisai dogma dan gemar menyalahkan orang lain karena perbedaan paham. Dalam lingkup ilmu literasi, tipe individu seperti itu disebut nirliterasi.

Hulu masalah literasi sesungguhnya bermula pada nihilnya pendidikan literasi di kelas. Bilapun dipelajari dalam satu paket mata pelajaran, substansi literasi hanya diintegrasikan pada materi bahasa dan sastra. Oleh sebab itu, terdapat erosi esensi karena pengetahuan literasi diminorkan dan direduksi sebagai materi yang bersifat teoretis.

Dengan pernyataan lain, pelajaran literasi hanya disimbolkan dan diganti pelajaran “tentang bahasa”, bukan “berbahasa” yang cenderung berorientasi pada aktualisasi siswa dalam praktik di lapangan.

Ironi berikutnya adalah absennya pelajaran mencatat. Di tingkat dasar, siswa acap dituntut menulis tapi anehnya guru tak pernah mengajarkan bagaimana cara mencatat yang baik dan benar. Tak heran bila siswa kebingungan dalam manajemen pengetahuan (informasi).

Karenanya, jamak peserta didik buta terhadap esensi ilmu pengetahuan. Yang ia pahami hanya mengikuti perintah guru tanpa diberikan pedoman mencatat ilmu secara metodologis. Bukankah sebelum mengetahui sesuatu ia harus mencatat, sementara tak akan mencapai titik pemahaman sebelum melewati tahap mengetahui?

Tak heran bila pendidikan di Indonesia dewasa ini hanya menghasilkan siswa yang pandai meniru dan macet inovasi. Sekalipun sudah memasuki fase remaja, siswa masih merasa rendah diri.

Penyebabnya sepele, yakni doktrinasi kontemporer di sekolah formal yang hanya mengarahkan siswa pada pola pembelajaran “benar” dan “salah” dalam pengkajian ilmu. Siswa hampir tak pernah diajarkan “kenapa” dan “bagaimana” suatu ilmu bekerja.

Kemajemukan berpendapat siswa digilas oleh soal pilihan ganda. Padahal, dalam teori evaluasi pendidikan, tipe soal pilihan ganda adalah model yang paling rendah karena menihilkan kemampuan interpretasi peserta didik.

Bila hendak mendapatkan jawaban objektif, seharusnya guru menggunakan model evaluasi esai karena memungkinkan jawaban variatif dari siswa. Semakin kritis siswa berragumentasi, semakin otentik ia membangun ruang pemahaman.

Model alat evaluasi uraian dapat menilai sejauh mana siswa memahami suatu topik tertentu melalui sudut pandang masing-masing. Dengan demikian, siswa terlatih beropini secara bebas tanpa takut salah sepanjang pendapatnya berdasar dan bertanggung jawab.

Strategi dan Siasat

DAS Sein dan das sollen yang merepresentasikan pokok masalah pendidikan literasi mustahil dipecahkan melalui satu pendekatan ilmu, terutama mengandalkan ilmu pedagogik, baik meliputi konsep teoretis maupun terapan.

Metapersoalan yang melingkupi realitas pendidikan literasi sudah sampai tahap akut karena dikelilingi oleh variabel terikat yang tak sekadar tunggal, tetapi plural—itupun masih terdiri atas subvariabel yang koheren. Karenanya, terobosan yang bisa dilakukan adalah memulai mencari benang merah persoalan, yaitu berangkat dari kebutuhan siswa.

Pertama, dibutuhkan suatu pendekatan pengajaran baru yang bersifat aplikatif dan mengajak siswa belajar mandiri. Buku panduan mencatat bagi siswa sekolah dasar bisa menjadi solusi alternatif. Ia bukan buku teks yang berisi muatan teori, melainkan buku panduan yang mengajarkan siswa bagaimana cara mencatat secara sangkil dan mangkus.

Meskipun demikian, ia harus disesuaikan dengan kebutuhan zaman: dikonstruksi dalam bentuk aplikasi berbasis internet. Hal tersebut semata-mata mengikuti atmosfer pembelajaran yang dewasa ini diarahkan pada teknologi informasi.

Kerangka aplikasi itu merangkum empat pendekatan saintifik: mengamati, menanya, mengumpulkan informasi/eksperimen, mengasosiasikan/mengolah informasi, dan mengomunikasikan. Langkah-langkah tersebut menjembatani siswa dari “mengetahui” menuju “memahami” sesuatu secara sistematis dan gradual.

Oleh karena aplikasi itu bersifat interaktif, maka siswa dipandu dengan umpan kegiatan-kegiatan yang menuntut kreativitas tanpa batas dan produktif. Karena itu, siswa melakukan aktivitas stimulus-respons tanpa memedulikan jawaban yang benar atau salah, sebab tujuan aplikasi itu adalah menata informasi agar mudah dipahami.

Kedua, aplikasi itu dibuat dengan pendekatan ilmiah Research and Development—suatu jenis penelitian yang memungkinkan peneliti mengembangkan objek dengan menyusun analisis kebutuhan (studi pustaka dan studi lapangan), pengembangan produk awal (mengumpulkan bahan, desain, produk), validasi ahli (materi dan media), produksi produk, revisi produk, uji terbatas, dan revisi serta produk akhir.

Enam langkah tersebut dilakukan secara bertahap dan dengan mempertimbangkan pola pengembangkan media dalam lingkup pendekatan ilmiah. Tapi ia harus dipahami sebagai instrumen pembantu semata, bukan penjamin atau penentu keberhasilan pendidikan literasi.

Seperti tuturan Ki Hadjar Dewantara seabad lampau bahwa alat pengajaran tak bisa diposisikan sebagai penentu keberhasilan akademik siswa. Bagi Bapak Pendidikan Nasional itu, faktor determinan keberhasilan pendidikan terletak pada proses pemerdekaan kreativitas siswa serta eskalasi dialektis antara guru dan subjek didik tanpa mandek. Sekian.

Rony K. Pratama

Peneliti Pendidikan Literasi Yogyakarta