Apakah Peran Pendidik Tak Tergantikan di Era Disrupsi dan Revolusi Industri 4.0




Meski era disrupsi dan revolusi industri 4.0 memberikan sejumlah dampak terhadap dunia pendidikan, namun peran pendidik tidak pernah tergantikan oleh kecerdasan buatan. Untuk itu, pendidik mesti terus meningkatkan kompetensi dan melihat tantangan sebagai peluang.

Wakil Rektor I Bidang Akademik Universitas Negeri Semarang (Unnes) Prof Rustono MHum mengungkapkan kecanggihan teknologi memudahkan siapa pun memperoleh ilmu pengetahuan secara mudah dan cuma-cuma. Namun, peran mendidik hanya bisa dilakukan oleh pendidik yang tidak hanya meningkatkan kompetensi peserta didik, namun juga mengajarkan nilai-nilai yang sejalan dengan prinsip kemanusiaan. "Para dosen, mahasiswa, lulusan, dan guru dituntut beradaptasi dengan perubahan. Namun proses pendidikan harus menyentuh kenyataan sosial yang sebenarnya," ujarnya.

CSejalan dengan itu, menurut Rustono, Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi telah menjawab kebutuhan pada era kemajuan teknologi, antara lain rencana pembangunan universitas siber yang dipersiapkan untuk pembelajaran dalam jaringan. Ke depan, pengembangan pendidikan jarak jauh diharapkan mampu meningkatkan akses masyarakat dalam menempuh pendidikan tinggi berkualitas. Saat ini, lanjut dia, angka partisipasi kasar pendidikan tinggi baru 31,5 persen. Dengan terobosan ini, diharapkan mampu mencapai 40 persen pada tahun 2022-2023.

Di sisi lain, peningkatan kompetensi dosen dan mahasiswa menjadi hal yang mutlak dilakukan, di samping peran untuk membumikan keilmuan. Ilmu bertujuan untuk memajukan harkat dan martabat manusia dan bukan sebaliknya.

Untuk itu, pendidik mesti menguasai, bukan dikuasai oleh kemajuan. Sejalan dengan itu, tema yang diambil oleh Kemristek dan Dikti dalam peringatan Hari Pendidikan Nasional 2018 adalah "Menguatkan Pendidikan, Memajukan Kebudayaan".

Dalam kesempatan yang sama, Unnes memberikan tanda kehormatan Satyalancana Karya Satya kepada 199 civitas akademika. Anugerah tersebut diberikan untuk kategori berkarya selama 30 tahun, 20 tahun, dan 10 tahun.

Selain itu, sebanyak 24 dosen juga diumumkan lulus program doktor dari perguruan tinggi dalam maupun luar negeri. Kelulusan mereka menambah persentase dosen yang telah bergelar akademik tertinggi. Sejalan dengan itu, kualitas tridarma perguruan tinggi juga diharapkan dapat terus meningkat.

Rektor Unnes Prof Fathur Rokhman MHum mengatakan perguruan tinggi bukan hanya menjadi pendukung melainkan sebagai motor penggerak untuk memfasilitasi perubahan masyarakat. Untuk itu, perguruan tinggi perlu memainkan peran bagi perubahan dan inovasi-inovasi sosial dalam era disruptif ini. “Semua itu mesti dilandasi dengan semangat mencintai bangsa dan negara,” ujarnya.

Hal senada diungkapkan Rektor Universitas PGRI Semarang Dr Muhdi SH Mhum. Menurut dia seberapa pesat majunya teknologi, tapi tak akan dapat menggantikan peran guru dan dosen sebagai tenaga pengajar dan pendidik. "Karena teknologi memiliki kemampuan terbatas berupa pemecahan masalah yang rasional. Ketika ada hal-hal yang irasional, manusia masih lebih unggul dalam menyelasaikan masalah," jelasnya.

Menurut dia peranan guru sampai kapan pun tidak akan bisa digantikan, bahkan oleh teknologi secanggih apapun. Guru tetap diperlukan dan dibutuhkan untuk memberikan pendampingan kepada anak-anak didik menuju suatu kemandirian. "Secanggih apapun teknologi, tidak bisa menggantikan peran guru dalam hubungan personal dengan anak didik. Di tangan para guru terletak nasib anak-anak penerus kehidupan bangsa," kata dia.