5 Hal yang hanya dirasakan oleh guru muda, kamu kah salah satunya?




Bagi sebagian fresh graduate, bahkan yang lulus dari fakultas kependidikan, menjadi guru bukanlah pilihan profesi utama. Tak usah jauh-jauh mencari contoh, teman seangkatan saya di Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan yang jumlahnya hampir 500 orang, mungkin hanya 20 % nya yang menjadi guru, itupun kadang tidak sesuai dengan jurusan yang diambilnya semasa kuliah. Bukan tanpa alasan, selain karena faktor gaji, menemukan sekolah yang pas sesuai jurusan semasa kuliah faktanya bukanlah hal mudah. Tidak sedikit teman saya sesama jurusan Bahasa Inggris yang akhirnya menjadi guru PKN, Bahasa Indonesia, Bahasa Jawa, bahkan guru SD, karena lowongan menjadi guru bahasa Inggris susah didapat.

Nah, bagi yang beruntung bisa menjadi guru sejak lulus kuliah atau bahkan sebelum itu, menjadi guru di usia muda tentu bukan hal mudah. Saya sendiri mulai pertama kali mengajar sejak usia 20 tahun ketika masih kuliah, kala itu harus mengajar siswa SD-SMA di lembaga bimbingan belajar milik dosen saya. Menjadi guru di usia muda, ketika teman-teman seusia saya banyak berkiprah di perusahaan-perusahaan swasta dan BUMN dengan gaji puluhan kali lipat dari gaji yang saya dapat, jenjang karier yang kian menanjak dan seterusnya, adalah tantangan untuk keteguhan hati tetap memilih profesi ini.

Dan bagi semua yang memutuskan untuk memilih profesi ini sebagai karier pertama dan utama sejak jadi fresh graduate, pastinya mengalami suka duka tersendiri yang susah dilupakan dan hanya bisa dirasakan jika kita menjadi guru.

Beberapa hal yang cuma bisa dirasakan oleh mereka yang memilih menjadi guru walau masih muda, diantara banyaknya pilihan profesi lain yang lebih menggiurkan:

  • 1. Menjadi guru di usia muda berarti kita akan terlibat di hampir semua kegiatan sekolah.Mulai dari kepanitiaan karya wisata, classmeeting, upacara Hardiknas, persami, penerimaan siswa baru bahkan sampai lomba Adi Wiyata. Nggak akan ada satupun kegiatan yang terlewat tanpa kehadiran para guru muda yang (kata para senior) masih bisa wara wiri kesana kemari. Ini sekaligus jadi ajang untuk mengembangkan diri dan mencoba hal-hal baru yang mungkin belum pernah dilakukan sebelumnya, secara tidak langsung melatih kemampuan berorganisasi juga.
  • 2. Banyak murid yang terkadang ‘keceplosan’memanggil Mbak, Mas atau Kak dibanding Pak/Bu. Ini kadang jadi keseruan sekaligus keanehan tersendiri karena ketika para murid terbiasa memanggil guru dengan Bapak atau Ibu guru tetapi ketika bertemu kita malah menyapa dengan ‘Kak’. Sebenarnya ini bukan masalah berarti selama tidak mengurangi wibawa di dalam kelas, karena perasaan dekat secara usia yang dirasakan murid-murid juga bisa menjadi modal tersendiri bagi para guru muda agar lebih mudah membaur dengan para siswa dan dekat dengan mereka.
  • 3. Perbedaan mindsetdan cara memandang sesuatu dengan para senior. Guru senior atau yang lebih tua biasanya menang di pengalaman mengajar dan asam garam menghadapi aneka tingkah laku siswa, sementara guru muda mengandalkan perbedaan usia yang tidak terlalu jauh serta kemampuan IT dan update informasi dan tren terbaru di kalangan siswa yang biasanya kurang diikuti oleh para guru senior.
  • 4. Ketika hangoutdengan teman kampus atau teman-teman seusia, bakal sering dipanggil pakai kata “Bu Guruu” atau “Pak Guruu” sambil ketawa-ketawa. Bukan karena profesi ini lucu, tapi karena menjadi guru di usia muda adalah salah satu hal yang cukup anti-mainstream belakangan ini. Apalagi kalau ‘sekedar’ jadi guru honorer alias GTT.
  • 5. Di lingkungan tempat tinggal,pemuda yang jadi guru akan mendapat wibawa tersendiri. Para tetangga dan sesepuh kampung biasanya respect sama pemuda yang mau jadi guru. Tentu saja asal jadi guru yang baik dan bisa memberi contoh positif di lingkungan.