Seniman masuk sekolah menjadi salah satu solusi Pendidikan Indonesia




Pendidikan Indonesia dalam keadaan gawat darurat. Hal ini sudah menjadi rahasia umum apabila masih banyak PR (Red: pekerjaan rumah) yang harus dibenahi. Salah satu inovasi yang dilakukan pemerintah dalam mengantisipasi gawat darurat pendidikan lewaat Gerakan Seniman Masuk Sekolah (GSMS) yang resmi dimulai pada tahun 2018 ini. Dengan adanya gerakan ini pemerintah berharap dapat membantu sekolah-sekolah dalam pemenuhan kebutuhan guru seniman di sekolah.

Terdapat banyak seniman dari beragam bidang yang ikut serta membantu pemerintah dalam pemenuhan kebutuhan guru, mulai dari bidang seni tari, music, teater, sastra, seni rupa bahkan seni media. Para seniman ini akan terbagi di 28 provinsi di Indonesia dan ikut terjun langsung ke sekolah-sekolah untuk

membagi ilmu kesenian kepada murid-murid sesuai dengan keahlian masing-masing seniman. Hal ini tentu sangat membantu pemerintah dalam meratakan pembagian ilmu pendidikan ke semua wilayah di Indonesia. Direktur jendral kebudayaan kementrian pendidikan dan kebudayaan, Hilmar Farid, mengatakan di Indonesia masih banyak wilayah-wilayah yang belum merasakan pemerataan pendidikan, sehingga terbesitlah gerakan seniman masuk sekolah ini agar peserta didik di seluruh wilayah Indonesia dapat merasakan hal yang sama. Hal ini pun juga menjadi solusi atas ketidaksamaan fasilitas antara sekolah maju dan memiliki guru kesenian dengan sekolah yang tidak bisa mendapat akses .

Gerakan ini dilakukan selama hampir 30 hari setelah waktu belajar selesai. Gerakan ini pun bukan bermaksud untuk menjadikan peserta didik hanya akan menjadi seniman, namun lebih kepada meningkatan kesenian dalam diri peserta didik sehingga dapat mengaktifkan kreatifitasnya dalam belajar.