Menjadi Guru ? Panggilan atau Paksaan




Guru telah melekat erat dengan kehidupan setiap anak-anak dalam pertumbuhannya menjadi dewasa. Guru juga merupakan figure primer disekolah, yang merupakan kunci penting untuk membentuk karakter pada anak-anak dalam kegiatan belajar mengajar disekolah.

Dalam hal inilah yang menjadikan guru sangat penting perannya, namun ada terbesit pertanyaan menjadi guru apakah panggilan? Atau hanya paksaan?

Sebagai sosok penting dalam pendidikan anak disekolah, tentulah profesi guru bukan hal yang main-main. Dalam mendidik anak-anak tidak hanya mengedepankan profesi dengan penghasilan besar, namun harus memiliki

dasar dan hati yang tulus untuk menyalurkan ilmu pada anak-anak. Maka dari itu sangat diwajibkan bagi sekolah-sekolah untuk menyeleksi ketat latar belakang dari guru-guru yang akan mengajar setidaknya berkualifikasi minimal S1/D-IV dan sesuai dengan subject yang akan ditangani.

Lalu pertanyaan kembali muncul pada tiap guru-guru, Menjadi Guru merupakan panggilan atau paksaan?

Dalam beberapa workshop yang dilakukan oleh Teachin.id beberapa guru memiliki alasan bahwa alasan menjadi guru diikuti karena lingkungan keluarga yang dominan menjadi guru, pilihan akhir, maupun ada yang memang berkeinginan dari hati. Tentu hal ini yang menjadi pembahasan yang cukup seru dikalangan expert pendidikan.

Keharusan guru dalam menyampaikan ilmu dengan tulus ternyata masih banyak yang pada prakternya tidak benar-benar tujuan utama menjadi guru. Lalu efektifkah kegiatan belajar mengajar yang dilaksanakan?

Menurut Doni Koesoema Albertus pendidikan tanpa standar moral dan etika profesi akan berakibat pada terisinya lembaga pendidikan oleh individu-individu yang hanya berkepentingan pada diri sendiri dan kelompoknya. Dan tentu hal ini akan merugikan bagi individu-individu yang memang memiliki passion dan daya akan tetapi tidak memiliki kekuasaan. Maka dari itu dengan tidak adanya etika profesi akan menggagalkan sistem pendidika karakter yang ingin dibentuk.

Maka dari itu sangat disarankan bagi para guru untuk ikut serta dalam praktek lapangan sebelum benar-benar terjun dalam kegiatan belajar mengajar. Hal ini ditujukan agar memenuhi kebutuhan kualifikasi tenaga pengajar dalam pengembangan pendidikan yaitu; profesionalisme, tanggung jawab pada kualitas pendidikan, passion.