Apa saja sih yang dapat dikatakan pelanggaran guru disekolah? Siapakah yang patut memediasi pelanggaran tersebut?




Dalam kegiatan belajar mengajar tentu tidak selalu mulus tanpa rintangan. Beberapa ujian pasti akan kita hadapi, mulai dari mempersiapkan lesson plan, merapikan raport anak-anak, hingga menguji kesabaran dalam menghadapi kenakalan anak-anak didik kita, dari hukuman ringan hingga berat.

Terkadang, sikap disiplin kita terhadap anak tidak berjalan lurus dengan keinginan orang tua. Sering ditemukan perbedaan pandangan antara orang tua dan guru dalam hal disiplin anak disekolah. Lalu bagaimana kita dapat membedakan pelanggaran apa saja yang kita lakukan dalam kegiatan belajar mengajar? dan apabila terjadi pada kita, siapakah yang dapat membantu memediasikan pelanggaran tersebut.

Terlebih dahulu kita harus membedakan jenis-jenis pelanggaran yang dilakukan oleh guru yaitu; pelanggaran etika, pelanggaran kompetensi, pelanggaran hukum. Pelanggaran etika merupakan suatu pelanggaran yang dilakukan oleh guru yang dapat menghilangkan hak anak-anak didik maupun demotivasi pada anak didik. Hal ini dapat dicontohkan seperti “seorang guru A di Jawa Barat memberikan nilai 0 pada anak” pelanggaran etika in tentu hal yang tidak patut dilakukan oleh guru karena sudah ditentukan oleh pemerintah bahwa setiap anak didik di Indonesia tidak boleh diberikan nilai 0. Jika hal ini terjadi dan mendapati orang tua murid yang menuntut hak anaknya, guru dan orang tua murid tersebut harus dimediasi oleh sekolah maupun organisasi guru di Indonesia.

Seorang guru dalam menjalankan tugasnya harus memiliki standar kompetensi yang mencakup kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial, dan profesional. Namun dalam prakteknya kompentensi yang sudah di wajibkan masih saja ada yang melanggar. Contoh dari pelanggaran guru ialah “Guru kesal dengan sikap murid, dan memberikan hukuman menjilat toilet” melalui contoh pelanggaran guru ini tentu sikap yang diambil oleh seorang guru dengan memberikan hukuman tersebut sudah menyalahi aturan kompetensi dimana hilangnya rasa manusiawi pada siswa dan dapat memberikan dampak pengulangan sikap siswa tersebut pada orang lain. Jika hal ini terjadi, lalu guru tersebut dituntut oleh orang tua siswa maka guru dapat dimediasi terlebih dahulu oleh organisasi guru sesuai dengan fakta keadaan yang ada. Dalam hal ini organisasi gurupun fungsinya adalah untuk membantu guru mendapatkan haknya tanpa mengurangi hukuman maupun konsekuensi yang didapat oleh guru.

Pelanggaran hukum oleh guru, hal ini sudah tentu merupakan tindakan yang tidak bisa ditoleran. Seperti contohnya guru memukul anak hingga menghilangkan fungsi anggota tubuh anak tersebut, maupun kasus seperti guru memperkosa anak muridnya. Pelanggaran ini tentu harus sudah diajukan pada pihak kepolisian untuk ditindak lanjuti lalu dicabut hak mengajar bagi guru tersebut.

Melalui artikel diatas ini, dapat kita jadikan bahan pertimbangan dan konsekuensi jika akan melakukan pelanggaran. Namun jika pelanggaran itu terjadi, maka ada baiknya kita harus tau apa saja hak-hak yang kita dapat dan siapa saja yang dapat me-mediasi-kan kasus pelanggaran yang telah kita lakukan.